apabila diajar oleh Guru baik dan memiliki metoda pengajaran yang baik
Selasa, 13 Maret 2012
Simbol-simbol Paskah dan Maknanya
ANAK DOMBA PASKAH
Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam perayaan agung ini. Anak Domba Paskah, yang melambangkan Kristus, dengan bendera kemenangan, dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa. Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia. Dua ratus tahun kemudian Roma mempergunakannya dan sesudah itu, selama berabad-abad kemudian, menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.
Tradiri kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.
Di abad-abad yang silam, dianggap merupakan suatu tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba, teristimewa pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.
TELUR PASKAH
Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa. Bagi para leluhur kita yang belum mengenal ajaran Kristiani, sungguh merupakan peristiwa yang menakjubkan menyaksikan suatu makhluk hidup yang baru muncul dari suatu obyek yang tampaknya mati. Bagi mereka, telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat equinox musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.
Pada masa Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu darimana Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa sukacita Paskah, yaitu karena, dulu, telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Kaum beriman sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.
Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa utara dan di Asia segera sesudah mereka masuk Kristen. Tetapi, di antara bangsa-bangsa Eropa selatan, dan dengan demikian juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.
Ritual Romawi mempunyai tata cara khusus untuk pemberkatan telur-telur Paskah:
“Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menganugerahkan berkat-Mu atas telur-telur ini, menjadikannya makanan yang sehat bagi umat beriman, yang dengan penuh syukur menyantapnya demi menghormati Kebangkitan Tuhan kami Yesus Kristus.”
Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.
Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut “Dingeier” (telur-telur yang “dihutang”). Anak-anak tidak berlambat dalam menuntut apa yang “dihutang” dari mereka, dan dengan demikian berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka. Berikut adalah salah satunya yang berasal dari Austria:
Kami menyanyi, kami menyanyi lagu Paskah:
Tuhan membuatmu sehat, kuat dan pintar.
Penyakit dan badai dan segala yang jahat
kiranya jauh dari kerabat, dan ternak dan ladang.
Sekarang, berilah kami telur,
yang hijau, yang biru dan yang merah;
jika tidak, anak-anak ayammu akan mati semuanya.
Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.
Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: “Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin [pengemis].”
Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Chaldean, Syria dan Yunani, kaum beriman saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavic membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.
Berbagai Permainan Menggunakan Telur
Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Syria, Iraq, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu; telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai “telur kemenangan”. Permainan ini amat digemari di Amerika lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.
Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.
Di Rusia dan Ukrainia dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.
KELINCI PASKAH
Kelinci Paskah berasal dari tradisi kesuburan masyarakat sebelum masa Kristiani. Kelinci merupakan binatang yang paling subur menurut para leluhur, karenanya kelinci dipergunakan sebagai simbol kehidupan baru yang melimpah di masa musim semi. Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci. Namun demikian, kelinci mendapat peran yang menyenangkan dalam perayaan Paskah sebagai tokoh legenda penghasil telur-telur Paskah bagi anak-anak di berbagai negara. Di berbagai daerah di Jerman, dipercaya bahwa kelinci Paskah meletakkan telur-telur merah pada hari Kamis Putih dan telur-telur berbagai macam warna pada malam sebelum Minggu Paskah. Kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di Jerman selatan, dan sekarang kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai macam negara.
BABI
Jangan melupakan si babi yang memberikan dagingnya sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.
Merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari masa sebelum masa Kristiani, untuk makan daging babi dalam berbagai perayaan. Orang-orang Inggris dan Skandinavia menyantapnya, orang-orang Jerman dan Slavia menyantap daging babi panggang pada Hari Raya Natal. Juga, di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.
Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam perayaan agung ini. Anak Domba Paskah, yang melambangkan Kristus, dengan bendera kemenangan, dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa. Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia. Dua ratus tahun kemudian Roma mempergunakannya dan sesudah itu, selama berabad-abad kemudian, menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.
Tradiri kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.
Di abad-abad yang silam, dianggap merupakan suatu tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba, teristimewa pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.
TELUR PASKAH
Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa. Bagi para leluhur kita yang belum mengenal ajaran Kristiani, sungguh merupakan peristiwa yang menakjubkan menyaksikan suatu makhluk hidup yang baru muncul dari suatu obyek yang tampaknya mati. Bagi mereka, telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat equinox musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.
Pada masa Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu darimana Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa sukacita Paskah, yaitu karena, dulu, telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Kaum beriman sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.
Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa utara dan di Asia segera sesudah mereka masuk Kristen. Tetapi, di antara bangsa-bangsa Eropa selatan, dan dengan demikian juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.
Ritual Romawi mempunyai tata cara khusus untuk pemberkatan telur-telur Paskah:
“Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menganugerahkan berkat-Mu atas telur-telur ini, menjadikannya makanan yang sehat bagi umat beriman, yang dengan penuh syukur menyantapnya demi menghormati Kebangkitan Tuhan kami Yesus Kristus.”
Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.
Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut “Dingeier” (telur-telur yang “dihutang”). Anak-anak tidak berlambat dalam menuntut apa yang “dihutang” dari mereka, dan dengan demikian berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka. Berikut adalah salah satunya yang berasal dari Austria:
Kami menyanyi, kami menyanyi lagu Paskah:
Tuhan membuatmu sehat, kuat dan pintar.
Penyakit dan badai dan segala yang jahat
kiranya jauh dari kerabat, dan ternak dan ladang.
Sekarang, berilah kami telur,
yang hijau, yang biru dan yang merah;
jika tidak, anak-anak ayammu akan mati semuanya.
Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.
Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: “Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin [pengemis].”
Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Chaldean, Syria dan Yunani, kaum beriman saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavic membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.
Berbagai Permainan Menggunakan Telur
Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Syria, Iraq, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu; telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai “telur kemenangan”. Permainan ini amat digemari di Amerika lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.
Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.
Di Rusia dan Ukrainia dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.
KELINCI PASKAH
Kelinci Paskah berasal dari tradisi kesuburan masyarakat sebelum masa Kristiani. Kelinci merupakan binatang yang paling subur menurut para leluhur, karenanya kelinci dipergunakan sebagai simbol kehidupan baru yang melimpah di masa musim semi. Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci. Namun demikian, kelinci mendapat peran yang menyenangkan dalam perayaan Paskah sebagai tokoh legenda penghasil telur-telur Paskah bagi anak-anak di berbagai negara. Di berbagai daerah di Jerman, dipercaya bahwa kelinci Paskah meletakkan telur-telur merah pada hari Kamis Putih dan telur-telur berbagai macam warna pada malam sebelum Minggu Paskah. Kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di Jerman selatan, dan sekarang kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai macam negara.
BABI
Jangan melupakan si babi yang memberikan dagingnya sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.
Merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari masa sebelum masa Kristiani, untuk makan daging babi dalam berbagai perayaan. Orang-orang Inggris dan Skandinavia menyantapnya, orang-orang Jerman dan Slavia menyantap daging babi panggang pada Hari Raya Natal. Juga, di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.
Sabtu, 25 Februari 2012
Senin, 20 Februari 2012
Persiapan PASKAH
Pada akhir bulan Februari ini kita akan merayakan hari raya Rabu Abu. Saatnya kita memulai pertobatan dan masa puasa selama 40 hari.
Baiknya kita mulai menyiapkan diri kita dari sekarang karena Paskah memiliki makna yang sangat dalam dan jauh lebih penting daripada hari raya Natal.
Pada hari raya Rabu Abu, kita akan menerima abu di dahi kita, sebagai tanda bahwa kita, manusia berasal dari debu/tanah dan akan kembali menjadi debu. Kita hanya mahluk ciptaan Tuhan yang lemah, namun karena rahmatNya, Tuhan meninggikan kita di antara mahluk ciptaanNya yang lain. Kita seharusnya bersyukur akan hal ini. Namun sering kali kita lupa. Lupa pada rahmat Tuhan. Lupa untuk bersyukur. Kita terus-menerus melakukan dosa.
Paskah Tuhan yang pertama sudah berlalu, ketika bangsa Israel berhasil keluar dari Mesir, sebagai bangsa jajahan. Nabi Musalah yang membebaskan mereka dengan pertolongan Tuhan. Kini Paskah Tuhan yang kedua, adalah saat dimana Yesus wafat, disalib, dan dibangkitkan dari antara orang mati. Seperti yang kita ketahui, diawali dengan perayaan Rabu Abu, kemudian masuk Tri hari Suci, diakhiri dengan misa Paskah. Yesuslah sang pembebas kali ini, pembebas manusia dari dosa-dosa, diutus sendiri oleh Tuhan kepada umatNya.
Ada baiknya kita melihat pesan di balik peristiwa mulia ini, yaitu pertobatan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan.
Rabu Abu - masa pertobatan, mari kita mengawali usaha pertobatan kita dengan berpantang dan berpuasa selama 40 hari, dengan kesungguhan hati, dan betul-betul mengarahkan diri kita kepada Tuhan, Allah yang Esa. Kemudian mengakulah dosa di hadapan pastor secara jujur, karena pastor adalah wakil para rasul Yesus di dunia. Bacalah Matius 4 : 1-11 tentang Yesus berpuasa di padang gurun, lalu Matius 6 : 16-18 tentang Hal Berpuasa, dan Markus 2 : 18-22 juga tentang Hal Berpuasa untuk meneguhkan puasamu.
Minggu Palma - penyambutan Yesus memasuki gerbang Yerusalem, mari kita menghadapi persiapan paskah dengan mengikuti misa Minggu Palma di gereja. Jangan lupa untuk membawa daun Palma sebagai lambang menyambut kehadiran Yesus di tengah umat. Bacalah Markus 11 :1-11 atau Lukas 12 : 9-19 tentang Yesus dielu-elukan di Yerusalem untuk mengenang peristiwa itu.
Kamis Putih - wujud persatuan dan pelayanan terhadap sesama manusia, mari kita selalu merayakan ekaristi selama masa pra Paskah, untuk mengenang peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus bersama murid-muridNya, sehari sebelum ia ditangkap untuk dihukum mati. Mari kita melakukan perintah Yesus, yaitu agar kita saling melayani satu sama lain, seperti yang dicontohkanNya pada malam perjamuan terakhir. Melayani sesama secara konkrit adalah wujud cinta kita pada sesama. Dengan saling melayani kita merendahkan diri dan mampu menghormati orang lain. Sebab orang lain juga berharga di mata Tuhan. Bacalah Lukas 22 : 7-13, 14-23, 24-38 tentang Persiapan untuk makan Paskah, dan juga Yohanes 13 :1-20 tentang Yesus membasuh kaki murid-muridNya, dasar sikap pelayanan kita pada sesama.
Jumat Agung - mengenang wafat Tuhan, mari kita memulai perayaan Paskah Tuhan dengan menemani Yesus berdoa di taman Getsemani, sesaat sebelum ia ditangkap oleh para algojo. Di taman itu Ia berdoa kepada Bapa, mohon kekuatan di dalam ketakutanNya sebagai manusia. Takut akan cawan yang harus diminumNya. Saat inilah kita juga berdoa kepada Bapa mohon pengampunan atas segala dosa kita, yang menyebabkan Anak Domba itu dikorbankan. Mari kita berdoa sambil meresapi malam-malam mencekam saat Yesus akan ditangkap dan dibawa ke mahkamah agama, diadili. Bacalah Markus 14 : 32-42, 43-52. Kemudian, mari kita ikuti misa syukur agung pada malam Jumat Agung, karena pada hari inilah Yesus wafat dan menyerahkan nyawaNya di atas kayu salib. "Eloi Eloi Lama Sabathani" adalah doaNya yang terakhir kepada Bapa. Genaplah sudah nas kitab suci beribu tahun yang lalu. Ketika Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir terjadilah gempa bumi di Bukit Golgota. Tirai Bait Allah di Yerusalem terbelah dua. Dan prajurit yang menusuk lambung Yesus pun tersungkur dan mengakui Yesus sungguh Putera Allah. Percayalah kita seperti dia. Bacalah Lukas 23 : 33-43, 44-49, 50-55 dan Yohanes 19 : 16b-27, 28-30, dan 31-37 tentang Yesus disalibkan, wafat, dan dikuburkan.
Malam Paskah - merayakan kebangkitan Yesus, kemenanganNya atas maut, mari kita bersyukur karena Yesus sungguh bangkit dari mati. Ia telah mengalahkan maut. Selama 40 hari Ia menampakkan diri kepada para muridNya. Bahkan ada satu orang RasulNya yang masih tidak percaya, namun Yesus membuktikan kepadaNya bahwa Ia sungguh bangkit dari mati. Kita juga percaya Yesus akan membangkitkan kita dari maut, seperti diriNya, karena Yesus sendiri yang berjanji demikian pada para pengikutNya pada saat itu. Sebelum akhirnya para murid melihatNya naik ke surga, Yesus telah menurunkan Roh Kudus atas mereka, yang akan membimbing para Rasul dan pengikut-pengikutNya selama berada di dunia. Terpujilah Tuhan. Bacalah : Yohanes 20 : 1-10, 11-18, 19-23, 24-29, dan Yohanes 21 : 1-14 atau Lukas 24 : 1-12, 13-35, 36-49, 50-53 tentang peristiwa kebangkitan, penampakan, dan Yesus naik ke surga untuk meneguhkan imanmu.
Percayalah, pertobatan dan pengampunan akan membawamu pada sikap hidup yang lebih baik. Paskah akan menjadi hari raya yang penuh ungkapan syukur dan pemulihan hidup kita di hadapan Tuhan. Tinggalkan hidup kita yang lama, yang penuh dosa. Tinggalkan kebencian, balas dendam, sakit hati, menyakiti diri sendiri. Kita harus menjadi manusia baru yang terus menantikan janji Yesus, yaitu kehidupan abadi bersama para malaikat dalam Kerajaan Allah di surga. Karena itu, sediakan waktumu untuk berpuasa dan bertobat, karena Kerajaan Surga sudah semakin dekat.
Hanya kita yang sungguh-sungguh merendahkan diri dan mau mengakui kedosaan kita, layak menyambut tubuh dan darah Kristus yang suci dalam perayaan Paskah nanti. Berdoalah dan jadilah manusia baru, Sahabat. Selamat Berpantang dan Berpuasa
Baiknya kita mulai menyiapkan diri kita dari sekarang karena Paskah memiliki makna yang sangat dalam dan jauh lebih penting daripada hari raya Natal.
Pada hari raya Rabu Abu, kita akan menerima abu di dahi kita, sebagai tanda bahwa kita, manusia berasal dari debu/tanah dan akan kembali menjadi debu. Kita hanya mahluk ciptaan Tuhan yang lemah, namun karena rahmatNya, Tuhan meninggikan kita di antara mahluk ciptaanNya yang lain. Kita seharusnya bersyukur akan hal ini. Namun sering kali kita lupa. Lupa pada rahmat Tuhan. Lupa untuk bersyukur. Kita terus-menerus melakukan dosa.
Namun Yesus diutus Tuhan untuk menjadi silih atas dosa kita. Dan pada perayaan Paskah, kita akan sangat mensyukuri hal itu. Karena Tuhan, bagaimanapun juga, masih mau mengampuni kita dari dosa, dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.
Paskah Tuhan yang pertama sudah berlalu, ketika bangsa Israel berhasil keluar dari Mesir, sebagai bangsa jajahan. Nabi Musalah yang membebaskan mereka dengan pertolongan Tuhan. Kini Paskah Tuhan yang kedua, adalah saat dimana Yesus wafat, disalib, dan dibangkitkan dari antara orang mati. Seperti yang kita ketahui, diawali dengan perayaan Rabu Abu, kemudian masuk Tri hari Suci, diakhiri dengan misa Paskah. Yesuslah sang pembebas kali ini, pembebas manusia dari dosa-dosa, diutus sendiri oleh Tuhan kepada umatNya.
Ada baiknya kita melihat pesan di balik peristiwa mulia ini, yaitu pertobatan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan.
Rabu Abu - masa pertobatan, mari kita mengawali usaha pertobatan kita dengan berpantang dan berpuasa selama 40 hari, dengan kesungguhan hati, dan betul-betul mengarahkan diri kita kepada Tuhan, Allah yang Esa. Kemudian mengakulah dosa di hadapan pastor secara jujur, karena pastor adalah wakil para rasul Yesus di dunia. Bacalah Matius 4 : 1-11 tentang Yesus berpuasa di padang gurun, lalu Matius 6 : 16-18 tentang Hal Berpuasa, dan Markus 2 : 18-22 juga tentang Hal Berpuasa untuk meneguhkan puasamu.
Minggu Palma - penyambutan Yesus memasuki gerbang Yerusalem, mari kita menghadapi persiapan paskah dengan mengikuti misa Minggu Palma di gereja. Jangan lupa untuk membawa daun Palma sebagai lambang menyambut kehadiran Yesus di tengah umat. Bacalah Markus 11 :1-11 atau Lukas 12 : 9-19 tentang Yesus dielu-elukan di Yerusalem untuk mengenang peristiwa itu.
Kamis Putih - wujud persatuan dan pelayanan terhadap sesama manusia, mari kita selalu merayakan ekaristi selama masa pra Paskah, untuk mengenang peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus bersama murid-muridNya, sehari sebelum ia ditangkap untuk dihukum mati. Mari kita melakukan perintah Yesus, yaitu agar kita saling melayani satu sama lain, seperti yang dicontohkanNya pada malam perjamuan terakhir. Melayani sesama secara konkrit adalah wujud cinta kita pada sesama. Dengan saling melayani kita merendahkan diri dan mampu menghormati orang lain. Sebab orang lain juga berharga di mata Tuhan. Bacalah Lukas 22 : 7-13, 14-23, 24-38 tentang Persiapan untuk makan Paskah, dan juga Yohanes 13 :1-20 tentang Yesus membasuh kaki murid-muridNya, dasar sikap pelayanan kita pada sesama.
Jumat Agung - mengenang wafat Tuhan, mari kita memulai perayaan Paskah Tuhan dengan menemani Yesus berdoa di taman Getsemani, sesaat sebelum ia ditangkap oleh para algojo. Di taman itu Ia berdoa kepada Bapa, mohon kekuatan di dalam ketakutanNya sebagai manusia. Takut akan cawan yang harus diminumNya. Saat inilah kita juga berdoa kepada Bapa mohon pengampunan atas segala dosa kita, yang menyebabkan Anak Domba itu dikorbankan. Mari kita berdoa sambil meresapi malam-malam mencekam saat Yesus akan ditangkap dan dibawa ke mahkamah agama, diadili. Bacalah Markus 14 : 32-42, 43-52. Kemudian, mari kita ikuti misa syukur agung pada malam Jumat Agung, karena pada hari inilah Yesus wafat dan menyerahkan nyawaNya di atas kayu salib. "Eloi Eloi Lama Sabathani" adalah doaNya yang terakhir kepada Bapa. Genaplah sudah nas kitab suci beribu tahun yang lalu. Ketika Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir terjadilah gempa bumi di Bukit Golgota. Tirai Bait Allah di Yerusalem terbelah dua. Dan prajurit yang menusuk lambung Yesus pun tersungkur dan mengakui Yesus sungguh Putera Allah. Percayalah kita seperti dia. Bacalah Lukas 23 : 33-43, 44-49, 50-55 dan Yohanes 19 : 16b-27, 28-30, dan 31-37 tentang Yesus disalibkan, wafat, dan dikuburkan.
Malam Paskah - merayakan kebangkitan Yesus, kemenanganNya atas maut, mari kita bersyukur karena Yesus sungguh bangkit dari mati. Ia telah mengalahkan maut. Selama 40 hari Ia menampakkan diri kepada para muridNya. Bahkan ada satu orang RasulNya yang masih tidak percaya, namun Yesus membuktikan kepadaNya bahwa Ia sungguh bangkit dari mati. Kita juga percaya Yesus akan membangkitkan kita dari maut, seperti diriNya, karena Yesus sendiri yang berjanji demikian pada para pengikutNya pada saat itu. Sebelum akhirnya para murid melihatNya naik ke surga, Yesus telah menurunkan Roh Kudus atas mereka, yang akan membimbing para Rasul dan pengikut-pengikutNya selama berada di dunia. Terpujilah Tuhan. Bacalah : Yohanes 20 : 1-10, 11-18, 19-23, 24-29, dan Yohanes 21 : 1-14 atau Lukas 24 : 1-12, 13-35, 36-49, 50-53 tentang peristiwa kebangkitan, penampakan, dan Yesus naik ke surga untuk meneguhkan imanmu.
Percayalah, pertobatan dan pengampunan akan membawamu pada sikap hidup yang lebih baik. Paskah akan menjadi hari raya yang penuh ungkapan syukur dan pemulihan hidup kita di hadapan Tuhan. Tinggalkan hidup kita yang lama, yang penuh dosa. Tinggalkan kebencian, balas dendam, sakit hati, menyakiti diri sendiri. Kita harus menjadi manusia baru yang terus menantikan janji Yesus, yaitu kehidupan abadi bersama para malaikat dalam Kerajaan Allah di surga. Karena itu, sediakan waktumu untuk berpuasa dan bertobat, karena Kerajaan Surga sudah semakin dekat.
Hanya kita yang sungguh-sungguh merendahkan diri dan mau mengakui kedosaan kita, layak menyambut tubuh dan darah Kristus yang suci dalam perayaan Paskah nanti. Berdoalah dan jadilah manusia baru, Sahabat. Selamat Berpantang dan Berpuasa
Rabu Abu dan Makna Puasa
Rabu Abu yang merupakan awal dari masa berpuasa dan berpantang selama 40 hari bagi umat Kristiani utamanya umat Katholik, tentu harus dipandang sebagai masa untuk memperbaiki, merenung, dan meresapi atas perjalanan hidup selama ini dan menjalani serta memikul salib kehidupan bersama-sama dengan Yesus.
Pada masa puasa dan pantang ini, umat Katholik tidak hanya dituntut untuk berpuasa dan berpantang, namun juga menjadi lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Adalah memprihatinkan jika kita hanya menjadi baik pada masa puasa dan pantang, dan kembali berbuat tercela atau jatuh ke dalam pencobaan seusai ritual suci tersebut.
Memikul beban salib Kristus sendiri tidak hanya wajib dilakukan pada masa puasa dan pantang, akan tetapi juga harus dilakukan sepanjang hidup kita sebagai umat Nasrani. Sebagai umat Katholik kita dituntut untuk selalu berevolusi menjadi lebih baik lagi dari hari-hari kemarin, baik pada masa puasa dan berpantang, namun juga pada saat sesudahnya.
Diakui, tidak mudah bagi kita semua untuk berevolusi menjadi lebih baik lagi, jangankan untuk menjadi lebih baik, sekedar berpantang dan berpuasa saja bagi sebagian orang sudah sangat berat. Padahal kita tidak dituntut untuk melakukan ritual puasa penuh 40 hari seperti yang dilakukan oleh beberapa orang atau kumpulan tertentu pada umat Katholik.
Namun kita tetap harus mau tidak mau untuk berusaha menjadi lebih baik dan jauh lebih baik lagi. Kalau tidak janji baptis yang selalu diucapkan pada malam Paskah menjadi suatu kesia-siaan belaka. Tuhan meski tidak marah saat kita jatuh ke dalam pencobaan, namun Dia mengharapkan agar kita bisa bangkit kembali dan berusaha untuk memperbaiki diri serta tidak putus asa terhadap cobaan hidup yang terus mendera.
Karena keputusasaan adalah awal dari kejatuhan iman, dan kejatuhan iman akan menyeret seseorang jatuh ke dalam jurang dosa yang tidak bertepi. Harus dipahami bahwa hidup itu adalah perjuangan. Dan di dalam berjuang mengarungi kehidupan ini, kita harus menghadapi berbagai pencobaan yang tidak kecil dan tidak sedikit.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Nasrani, terlebih umat Katholik, dituntut untuk selalu berusaha, berjuang dan beriman meski berbagai cobaan hidup datang mendera. Dengan berjuang di dalam kuasa nama Nya, niscaya tidak ada masalah yang tidak dapat dihadapi. Karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan kepada umat Nya yang lebih berat dari yang umat Nya mampu hadapi.
Senin, 13 Februari 2012
Makna Valentine
Ungkapan perasaan di atas tentunya tak lagi asing bagi Anda, bagi Anda yang sedang jatuh cinta, bagi Anda yang menghargai cinta, maupun bagi Anda yang memiliki cinta.
Di hari kasih sayang, tanggal 14 Pebruari 2012, coba kita renungkan kembali arti cinta dan kasih sayang. Masih adakah valentine di hati kita? Masihkah kita percaya adanya cinta kasih ?
Kartu valentine, bunga mawar, warna merah muda, puisi, coklat, gambar ataupun perhiasan berbentuk hati dan pesta valentine.. Itukah yang sering diingat orang pada hari kasih sayang? Apakah itu cukup untuk menunjukkan cinta kasih yang sebenarnya?
Sekali setahun, budaya yang berasal dari Roma ini dirayakan di banyak negara, termasuk di Indonesia. Apakah ini berarti ungkapan kasih sayang hanya diberikan cukup sekali setahun? Kemanakah perginya cinta kasih pada hari-hari yang lain?
Sejarah menunjukkan bahwa ungkapan kasih sayang yang mulanya hanya berupa pernyataan kasih pada sang kekasih pada saat perayaan Lupercalis, berkembang kearah ungkapan kasih yang berkorban dari Santo Valentino. Lalu apa arti cinta kasih itu sebenarnya? Lalu milik siapakah sebenarnya cinta kasih tersebut? Kepada siapakah Anda memberikan cinta kasih Anda?
dan .......
Bagaimana Anda dapat membagikan cinta kasih?
Di hari kasih sayang, tanggal 14 Pebruari 2012, coba kita renungkan kembali arti cinta dan kasih sayang. Masih adakah valentine di hati kita? Masihkah kita percaya adanya cinta kasih ?
Kartu valentine, bunga mawar, warna merah muda, puisi, coklat, gambar ataupun perhiasan berbentuk hati dan pesta valentine.. Itukah yang sering diingat orang pada hari kasih sayang? Apakah itu cukup untuk menunjukkan cinta kasih yang sebenarnya?
Sekali setahun, budaya yang berasal dari Roma ini dirayakan di banyak negara, termasuk di Indonesia. Apakah ini berarti ungkapan kasih sayang hanya diberikan cukup sekali setahun? Kemanakah perginya cinta kasih pada hari-hari yang lain?
Sejarah menunjukkan bahwa ungkapan kasih sayang yang mulanya hanya berupa pernyataan kasih pada sang kekasih pada saat perayaan Lupercalis, berkembang kearah ungkapan kasih yang berkorban dari Santo Valentino. Lalu apa arti cinta kasih itu sebenarnya? Lalu milik siapakah sebenarnya cinta kasih tersebut? Kepada siapakah Anda memberikan cinta kasih Anda?
dan .......
Bagaimana Anda dapat membagikan cinta kasih?
Langganan:
Postingan (Atom)







